Yusuf abad ke 21

MENGOBARKAN SEMANGAT MENGEJAR VISI TUHAN

by John Jeshurun

Sebenarnya ada banyak orang yang mengasihi Tuhan di dalam gereja kemakmuran, tapi dengan pengertian yang salah, mereka justru mendukakan Tuhan. Kasih contoh aja deh. Salah satu yang sering dikhotbahkan dalamgereja kemakmuran adalah, “Generasi Yusuf”. Ada banyak versinya, tapi intinya lagi-lagi prosperity atau kemakmuran. Memang, kalo pendeta sudah cinta uang, apa aja bisa dikhotbahkan supaya jemaat lebih banyak lagi memberi dan memberi. Mengejar berkat Tuhan adalah justru penyakit yang berbahaya di gereja. Udah gitu nih penyakit bisa nular lagi. Someday mereka akan menuai apa yang mereka tabur dalam kedagingannya. Jadi marilah kita bahas secara ringkas khotbah tentang Yusuf di gereja saat ini.

Khotbah mengenai Yusuf tentunya bagus,bagiku selain masalah visi, yang harus lebih ditekankan adalah masalah integritas. Namun beberapa pemimpin gereja kemakmuran lebih menekankan “JUBAH YUSUF” (pemerintahan di dunia yang dipimpin seorang Kristen dengan segala kemakmuran). Seorang pendeta yang kuhormati beberapa waktu yang lalu juga berkata lantang, “Kitalah Yusuf-Yusuf masa kini!” Kalo sedang bicara tentang integritas pasti aku akan teriak ‘Amin’. Namun kalo berbau kemakmuran dan berisikan iming-iming, aku mulai pasang filter dalam rohku, ga bisa ditelan mentah-mentah, apalagi di’amin’kan!

JUBAH YUSUF? Hmm, aku cuma tersenyum, mengingat ga pernah ada sejarahnya sejak jaman Yusuf yang asli, lalu muncul lagi “Yusuf-Yusuf ” berikutnya dalam arti seorang anak Tuhan yang menjadi penguasa. Buktikan aja sendiri. Bacalah baik-baik kitab Kejadian dan juga pelajari sejarah, bandingkan Mesir itu negara kayak apa sih dulunya, kalo sudah dapat gambaran, baru kita bicara definisi Yusuf masa kini. Yusuf yang menjadi pemimpin negara adikuasa di dunia ini ya cuman Yusuf bin Yakub itulah. Ga ada yang lain dan bakalan ga pernah ada lagi. Sorry guys, mari bangun dari tidur kita dan berhenti berangan-angan. Yusuf cuma bagian kecil dari keseluruhan rancangan Allah atas Israel umat-Nya. Toh, setelah Israel mengalami masa yang jaya di masa pemerintahan Yusuf, mereka kembali mengalami penderitaan panjang, diperbudak kembali oleh bangsa Mesir-suatu bangsa yang pernah dipimpin oleh seorang Ibrani.

Di gereja kemakmuran, banyak orang berjuang menjadi kaya, supaya ‘kelihatan’ bahwa mereka orang-orang yang ‘disertai Tuhan’. Para pendeta yang notabene makan gaji dari jemaat pun berupaya berbisnis, masak kalah ama jemaat sih. Mereka punya konsep bahwaga akan mungkin kaya raya kalo cuma hidup dari persembahan. Ntar gue foya-foya, dibilang pendeta ga tau diri. Lagian kata mereka, hari gene hidup dari persembahan? Kan Malu. Jika motifnya adalah cinta uang, gengsi, pamer, populer dan kesombongan terselubung, maka semuanya adalah hal yang sia-sia, sekalipun dirohanikan dan pake ayat-ayat suci. Contoh kasus, ada yang tadinya full timer, sekarang jadi part timer, karena sudah ada bisnis yang mau diurus, pendeta mendorong kok bahkan pendeta ikut juga terjun, katanya itu cara kita jadi ‘berkat’, supaya dunia ‘memandang’ kita. Sebagai anak Tuhan kita harus ‘mengangkat’ nama Yesus. Yang tadinya artis rohani, sekarang berupaya sekuat tenaga untuk jadi artis sekuler, intinya, ya itu tadi, biar dapet banyak uang dan bisa jadi ‘berkat’. Kata mereka, album rohani sangat terbatas penjualannya di sini, beda kalo di Amrik. Penyanyi rohani Amrik kaya raya, tidak seperti penyanyi rohani di Indonesia, dibilang kaya ga, miskin juga ga. Nah, pengen sih jadi ‘berkat’, makanya pindah ke sekuler, kalo dipikir-pikir, Mbah Surip (Alm.) aja bisa dapet miliaran rupiah dari lagu yang sederhana, kita juga bisa toh, apalagi kita anak Tuhan . Kok, kenapa maksa banget sih pengen jadi kaya, kok maksa sekali sih pengen menggenapi janji Tuhan dengan kekuatan sendiri? Sabar kek dikit?! Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah, kerja keras ga menambahinya. Ingat, apa yang ditabur (dalam kedagingan), itulah yang akan dituai.

Walaupun demikian,memang akan ada anak Tuhan yang kaya luar biasa yang dipakai untuk memberkati bangsa-bangsa, dengan kekayaan yang luar biasa banyaknya sperti yang digambarkan dalam nubuatan kitab Yesaya. Nah, yang ini asli kaya raya, beneran, bukan sekedar ‘nampak kaya’ atau berupaya memaksa diri menjadi kaya. Tapi itupun bukan gambaran seorang ‘Yusuf’. Mungkin kalo dikatakan bahwa Tuhan akan membangkitkan ‘Ayub-ayub masa kini’, itu lebih tepat. Namun, jika ingin berbicara tentang menjadi kaya seperti Ayub, ingatlah juga bahwa dia diuji habis-habisan dalam penderitaan yang tragis, sama halnya dengan Yusuf. Jadi tolong pikirkan dahulu baik-baik, kalo mau jadi seorang ‘Ayub’ atau ‘Yusuf’, jangan cuma liat kemakmurannya saja.

Intinya jelas, bahwa sungguh ga nyambung banget deh, mengkaitkan YUSUF apalagi AYUB dalam ‘membujuk’ orang untuk memberikan persembahan terbaik di gereja. Keduanya jelas lebih banyak bicara mengenai bertahan dan sabar dalam penderitaan. Apalagi cerita Ayub-seorang yang takut akan Tuhan tapi mengalami apa yang nampak sebagai ‘kutukan’ dan ini disalahpahami bahkan oleh sahabatnya sendiri-sesama rekan hamba Tuhan. Yesus sendiripun mengalami penderitaan yang hebat demikian pula murid-murid-Nya. Yesus sama sekali ga pernah berkata kepada ke-12 murid-Nya, “Kalian adalah Yusuf-Yusuf yang dibangkitkan Tuhan pada masa kini!” Semua ini jauh dari benak murid-murid-Nya, tatkala dengan hati hancur melihat pemimpin yang mereka kasihi disiksa secara sadis, ditelanjangi (naked, bugil) dan disangkutkan pada sebuah tiang kayu di bukit Golgota. “Inikah akhirnya?” Iman merekapun berguguran! Pauluspun harus mengurungkan niatnya untuk tampil menjadi seorang ‘Yusuf di jaman Palestina’ untuk memberkati dunia,karena nubuatan yang mengawali panggilannya berbicara mengenai penderitaan berat yang harus ditanggungnya -jadi sama sekali ga ada unsur kemakmurannya. Dan Pauluspun mati secara tragis.

Bagaimana kita menggambarkan jaman ini? Inilah jaman di mana orang Kristen terbuai dengan pengajaran yang ingin mereka dengarkan, bukan apa yang perlu mereka dengar. Padahal Tuhan sedang melatih para pahwalan iman-yaitu mereka yang siap menderita dan berperang, bukan tipikal bayi-bayi rohani yang selalu merengek minta ini-itu dan ngambek apabila ga mendapat apa yang diinginkannya. Kalo begini terus bagaimana generasi berikutnya akan survive dalam iman mereka? Dear guys, kekristenan yang sejati tidak akan lepas dari penderitaan. Trust me. Namun demikian, bukanlah penderitaan itu pula yang kita banggakan dan bukan pula tanding-tandingan beban berat dan penderitaan di gereja. Hal yang mau ditekankan adalah karena kasih karunia Tuhan, segala perkara dapat kita tanggung dan bersama-Nya kita menang!

Waktu Gus Dur wafat, aku baru tahu melalui banyak liputan di TV, bahwa selama dia mengalami kelemahan fisik dan gangguan penglihatan, dia sama sekali ga pernah mengeluh atau membesar-besar sakitnya itu. Orang-orang terdekatnya sendiri yang memberikan kesaksian tersebut. Tiba-tiba saat menyaksikan liputan tersebut, aku mendapat rhema dalam hatiku, “Paulus adalah orang yang seperti itu selama memberitakan Injil di bumi.” Paulus juga adalah orang yang punya banyak kelemahan, namun justru dalam kelemahannya itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Paulus adalah rasul yang paling banyak bicara mengenai kesetiaan hidup dalam penderitaan, coba aja Paulus khotbah mengenai JUBAH YUSUF mau jadi apa generasi berikutnya.

Jadi melalui blog ini, aku mau tegaskan bahwa semua hal yang berhubungan dengan Yusuf yang patut ditekankan di gereja bukanlah tentang kemakmuran, melainkan tiga hal ini: 1. Memegang janji Tuhan (VISI), 2. Integritas, 3. Kemenangan atas ujian penderitaan. Menurutku, seorang Kristen yang punya panggilan tentunya akan mengalami ujian seperti yang dialami oleh Yusuf. Dia berdiri sebagai batu karang & teladan integritas yang sungguh menginspirasi kita. Yusuf mendapat janji Tuhan bahwa someday ia akan menjadi orang besar, namun apa yang dialaminya justru makin lama makin memburuk saja kelihatannya. Yusuf bukanlah orang yang meniti karir yang bergerak selangkah demi selangkah menuju Istana (promosi), seperti yang ‘dialami’ mayoritas orang Kristen di dalam dunia pekerjaan atau bisnis. Supaya nyata oleh tangan Allah, Yusuf diangkat dari lubang penjara yang hina lalu diberikan suatu tahta yang mulia. Yusuf berhasil, semua ini semata-mata karena ia menuai apa yang telah ditaburnya.

Akan tiba saatnya kita menuai. Karena itu, jangan berhenti menabur dan selalu pegang janji Tuhan. Mari kita menjadi Yusuf abad 21, dalam arti orang yang berintegritas, mau menderita dan penuh semangat mengejar visi atau janji dari Tuhan. Mungkin apa yang engkau alami justru adalah kebalikannya yaitu hal yang pahit dan kehidupan yang makin lama makin memburuk saja kelihatannya. Namun, ingatlah, jika kamu adalah orang yang setia menabur, maka seturut dengan Hukum Tabur Tuai, maka engkau akan menuai, asal engkau tidak menjadi lelah dan patah semangat. Kobarkan semangatmu dalam penderitaan, bertahanlah dan kejar visi Tuhan! Hmmm, siapa tahu besok adalah hari promosi dari Tuhan! Amin!!!!

“Dalam sekejap mata keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan.” (Yesaya 51:5)

In God’s promises,
John Jeshurun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s